Tim PMB ISQI Sunan Pandanaran Sosialisasikan Program Pendidikan dan Beasiswa di Bruno, Purworejo
Tim PMB ISQI Sunan Pandanaran Sosialisasikan Program Pendidikan dan Beasiswa di Bruno, Purworejo
Purworejo, 11 Agustus 2026 —Tim Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Institut Studi Qur’an dan Ilmu (ISQI) Sunan Pandanaran melaksanakan kunjungan ke sejumlah lembaga pendidikan di Kecamatan Bruno, Purworejo, pada Selasa Kliwon, 11 Agustus 2026. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari agenda sosialisasi program pendidikan, penerimaan mahasiswa baru, serta berbagai skema beasiswa yang ditawarkan ISQI Sunan Pandanaran (ISQISPA) dan Madrasah Aliyah Sunan Pandanaran (MASPA).
Salah satu kunjungan dilakukan ke Madrasah Aliyah Takhassus Al-Qur’an Ahmad Sari, Tegalsari, Bruno. Dalam kesempatan tersebut, Arif Musthofa, M.Pd.I., menyampaikan sosialisasi mengenai penerimaan mahasiswa baru ISQI Sunan Pandanaran. Ia memaparkan profil ISQISPA, program-program perkuliahan, serta kehidupan pesantren di Kompleks Mahasiswa ISQISPA yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.
Menurut Arif, salah satu keunggulan ISQISPA terletak pada keterpaduan antara pendidikan perguruan tinggi dan pendidikan pesantren. Keduanya berada dalam satu yayasan sehingga program perkuliahan dan pengajian pesantren dapat berjalan secara sinambung dan saling melengkapi, bukan justru saling bertabrakan. “Mahasiswa diajar langsung oleh para kiai dan nyai, baik di kampus maupun di pesantren. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menempa kapasitas kognitif-intelektual mahasantri, tetapi juga membentuk akhlakul karimah yang tercermin dalam perilaku sehari-hari,” jelasnya.
Keterpaduan tersebut juga didukung oleh lokasi Kompleks Mahasiswa ISQISPA yang relatif dekat dengan gedung kampus. Kondisi ini membuat aktivitas perkuliahan dan kepesantrenan dapat dijalani dengan lebih mudah dan nyaman. Mahasiswa tidak harus menggunakan kendaraan bermotor untuk berpindah dari pesantren ke kampus, meskipun penggunaannya tetap diperbolehkan. Dalam keseharian, sejumlah mahasantri bahkan memilih menggunakan sepeda ontel atau berjalan kaki bersama-sama menuju kampus. Pemandangan tersebut menghadirkan suasana khas kehidupan santri yang mengingatkan pada syahdunya video klip lagu Kota Santri dari Nasida Ria: para santri berjalan beramai-ramai sambil menenteng kitab dan buku untuk menuntut ilmu.

Beasiswa sebagai Upaya Memperluas Akses Pendidikan
Selain program perkuliahan dan pesantren, tim PMB juga memperkenalkan berbagai program beasiswa yang tersedia di ISQISPA. Beberapa di antaranya adalah Beasiswa Santri Mandiri, Beasiswa Tahfidz, Beasiswa KIP-Kuliah, Beasiswa Kerja Sama, serta sejumlah program beasiswa lainnya.
Luqman Hakim, M.A., menyampaikan bahwa berbagai skema beasiswa tersebut merupakan bagian dari komitmen Yayasan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran dalam membuka akses pendidikan tinggi seluas-luasnya bagi generasi muda yang memiliki azzam dalam menuntut ilmu. Ia menjelaskan bahwa setiap program beasiswa memiliki persyaratan dan ketentuan masing-masing. Beasiswa Santri Mandiri misalnya, merupakan beasiswa dari Yayasan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran yang diberikan selama empat tahun, sejak mahasantri masuk hingga menyelesaikan studi dan wisuda. Sebagai konsekuensinya, penerima beasiswa berkewajiban menjalankan pengabdian selama masa studi dan satu tahun setelah menyelesaikan pendidikan. Sementara itu, Beasiswa Tahfidz diperuntukkan bagi mahasiswa yang telah menghafalkan Al-Qur’an muqri’, baik hafalan lengkap 30 juz maupun sebagian juz tertentu sesuai ketentuan program.
Menyambung Sanad Keilmuan Kalibeber-Pandanaran
Kunjungan ke MA Takhassus Al-Qur’an Ahmad Sari juga memiliki makna tersendiri dalam konteks hubungan keilmuan pesantren. Di hadapan Kiai Abdul Hamid Al-Hafidz, M.Pd.I., selaku Kepala MA Takhassus Ahmad Sari sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, Luqman Hakim menyampaikan bahwa kunjungan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menyambung sanad keilmuan antara dua guru besar pesantren, KH. Muntaha Al-Hafidz Kalibeber dan KH. Mufid Mas’ud Pandanaran.
Harapan tersebut memiliki landasan historis yang kuat. Kiai Abdul Hamid merupakan alumni Pondok Pesantren Kalibeber, Wonosobo, yang didirikan oleh KH. Muntaha Al-Hafidz. Karena itu, pertemuan antara kedua lembaga diharapkan tidak berhenti pada agenda sosialisasi pendidikan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat jejaring keilmuan dan silaturahmi antarpesantren.
Menanggapi hal tersebut, Kiai Abdul Hamid berharap pertemuan ini dapat menjadi awal yang baik bagi kedua institusi. “Semoga pertemuan ini menjadi awal yang baik untuk kedua institusi, membawa semangat keilmuan bagi generasi penerus, khususnya di wilayah Bruno dan sekitarnya, sekaligus membuka pintu kebermanfaatan dan keberkahan bagi semuanya,” ungkapnya.

MASPA Perkenalkan Program Unggulan di MTs Ma’arif NU 01 Bruno
Pada waktu yang sama, rombongan lain yang dipimpin langsung oleh Kepala Madrasah Aliyah Sunan Pandanaran (MASPA), Ili Rohili, M.Pd., melaksanakan sosialisasi di MTs Ma’arif NU 01 Bruno.
Ili Rohili memaparkan perkembangan dan berbagai capaian MASPA. Salah satunya adalah keberhasilan MASPA menjadi madrasah aliyah dengan jumlah lulusan yang diterima di perguruan tinggi terbanyak di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan melampaui Madrasah Aliyah Negeri. Selain capaian tersebut, beliau memperkenalkan model pendidikan MASPA yang memadukan sistem madrasah dengan pendidikan pesantren. Sejumlah program unggulan juga diperkenalkan, di antaranya Akselerasi Tahfidz wa Turots, Kelas Riset, Kelas Kitab Kuning, serta berbagai program pengembangan minat dan bakat melalui Unit Kegiatan Madrasah (UKM). Dalam kesempatan tersebut, juga dipaparkan berbagai skema beasiswa yang tersedia bagi calon peserta didik. Program-program tersebut diharapkan dapat memberikan lebih banyak pilihan kepada masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang memadukan penguatan akademik, keagamaan, keterampilan, dan pembentukan karakter.
Di hadapan Kepala MTs Ma’arif NU 01 Bruno, Nurhadi, S.Ag., beserta sejumlah guru, beliau menyampaikan harapan agar lembaga-lembaga pendidikan yang berada dalam lingkungan Nahdlatul Ulama dapat terus membangun sinergi dalam mendidik generasi muda. Ia berharap sinergi tersebut dapat memperkuat ukhuwah sekaligus menghadirkan generasi yang berkarakter Pancasila, memahami Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, dan memiliki kepribadian Qur’ani.
Kunjungan ke Bruno ini menjadi bagian dari ikhtiar ISQI Sunan Pandanaran dan MA Sunan Pandanaran untuk memperluas jejaring pendidikan sekaligus mempererat silaturahmi dengan lembaga-lembaga pendidikan di berbagai daerah. Lebih dari sekadar sosialisasi penerimaan peserta didik dan mahasiswa baru, agenda tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan visi pendidikan, menyambung jejaring keilmuan, serta membuka peluang kerja sama demi keberlanjutan pendidikan generasi muda.



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!